Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player for other than IE.

Get Adobe Flash player

 

Selasa, 18 September 2012 | 10:28 WIB

Sistem Jaringan Air Bersih PDAM Kota Kupang

Kupang, Sistem jaringan air bersih yang dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Kupang, sudah menjangkau 23 dari 51 kelurahan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur ini.
"Sudah sekitar 20 persen masyarakat Kota Kupang terlayani fasilitas air bersih dari PDAM Kota Kupang," kata Direktur PDAM Kota Kupang Noldy Mumu di Kupang, Selasa, ketika ditanya upaya pihaknya untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi warga kota di tengah musim kemarau saat ini.

Sebagian besar penduduk Kota Kupang, masih dilayani sistem jaringan air bersih dari PDAM Kabupaten Kupang yang memanfaatkan sumber mata air Baumata, Bendungan Tilong serta beberapa sumber mata air lainnya.

Noldy menjelaskan sistem jaringan air bersih yang dibangun PDAM Kota Kupang, menggunakan sumber mata air yang berasal dari delapan sumur bor, sumber air permukaan serta "water treatmen plan" atau bak penampung air bersih yang ada di kelurahan-kelurahan tersebut.

Menurut dia, manajemen PDAM terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih di semua wilayah dengan sistem jaringan air bersih agar bisa dinikmati oleh semua warga kota secara merata.

Ia menambahkan dengan terpasangnya sistem jaringan di sejumlah titik di 23 kelurahan yang ada bisa membantu masyarakat yang selama ini belum menggunakan sumber air dari PDAM Kota Kupang untuk pemenuhan air bersih dalam rumah tangga.

Sejumlah kendala yang masih menjadi perhatian pihak manajemen PDAM Kota Kupang dalam mendorong terpenuhinya akses pelayanan air bersih bagi masyarakat Kota Kupang, adalah sumber mata air baku.

Dia mengatakan, jumlah sumber air permukaan di wilayah Kota Kupang yang jumlahnya masih sangat sedikit dengan debit yang juga tidak terlampau besar, akan sangat menyulitkan manajemn PDAM untuk memfungsikannya sebagai sumber air baku.

Selain itu, sumber mata air bawah tanah, yang biasa diperoleh melalui sumur bor, banyak yang tidak memiliki debit air yang baik dan cenderung memiliki biaya operasional tinggi.

"Kalau sumur bor, tentunya masih membutuhkan mesin untuk menyuplai air ke permukaan untuk dialirkan. Dan inilah yang memakan banyak biaya," kata Noldy Mumu. (ANT/AK).

Telah dibaca 390 kali

 
Nama
Email
Komentar
 
.: | Home | buletin News | buletin Bisnis | buletin Hukum | buletin Politik | Luar Negeri | Sosial Budaya | buletin Daerah | Forum | :.
.: | Iklan baris | buletin Kolom | Karir | buletintaiment | Buletin Tokoh | :.
.: | Surat Pembaca | Redaksi | Tarif Iklan | Index | :.
Allright Reserved by buletininfo.com 2010
 
Ideas and Concept by IPORZ